Rabu, 15 September 2010

Hikmah Puasa di Bulan Syawal



Share
“Barangsiapa berpuasa penuh di bulan Ramadhan lalu menyambungnya dengan (puasa) enam hari di bulan Syawal, maka (pahalanya) seperti ia berpuasa selama satu tahun.” (HR. Muslim).
Imam Ahmad dan An-Nasa’i, meriwayatkan dari Tsauban, Nabi shallallahu ‘alaihi wasalllam bersabda: “Puasa Ramadhan (ganjarannya) sebanding dengan (puasa) sepuluh bulan, sedangkan puasa enam hari (di bulan Syawal, pahalanya) sebanding dengan (puasa) dua bulan, maka itulah bagaikan berpuasa selama setahun penuh.” ( Hadits riwayat Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban dalam “Shahih” mereka)

Dari Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu, Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan lantas disambung dengan enam hari di bulan Syawal, maka ia bagaikan telah berpuasa selama setahun. ” (HR. Al-Bazzar) (Al Mundziri berkata: “Salah satu sanad yang beliau miliki adalah shahih.”)


Pahala puasa Ramadhan yang dilanjutkan dengan puasa enam hari di bulan Syawal menyamai pahala puasa satu tahun penuh, karena setiap hasanah (kebaikan) diganjar sepuluh kali lipatnya, sebagaimana telah disinggung dalam hadits Tsauban di muka.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan memiliki banyak manfaat, di antaranya :
Puasa enam hari di bulan Syawal setelah Ramadhan, merupakan pelengkap dan penyempurna pahala dari puasa setahun penuh.
Puasa Syawal dan Sya’ban bagaikan shalat sunnah rawatib, berfungsi sebagai penyempurna dari kekurangan, karena pada hari Kiamat nanti perbuatan-perbuatan fardhu akan disempurnakan (dilengkapi) dengan perbuatan-perbuatan sunnah. Sebagaimana keterangan yang datang dari Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam di berbagai riwayat. Mayoritas puasa fardhu yang dilakukan kaum muslimin memiliki kekurangan dan ketidak sempurnaan, maka hal itu membutuhkan sesuatu yang menutupi dan menyempurnakannya.
Membiasakan puasa setelah Ramadhan menandakan diterimanya puasa Ramadhan, karena apabila Allah Ta’ala menerima amal seorang hamba, pasti Dia menolongnya dalam meningkatkan perbuatan baik setelahnya. Sebagian orang bijak mengatakan: “Pahala amal kebaikan adalah kebaikan yang ada sesudahnya.” Oleh karena itu barangsiapa mengerjakan kebaikan kemudian melanjutkannya dengan kebaikan lain, maka hal itu merupakan tanda atas terkabulnya amal pertama. Demikian pula sebaliknya, jika seseorang melakukan suatu kebaikan lalu diikuti dengan yang buruk maka hal itu merupakan tanda tertolaknya amal yang pertama.
Puasa Ramadhan -sebagaimana disebutkan di muka- dapat mendatangkan maghfirah atas dosa-dosa masa lain. Orang yang berpuasa Ramadhan akan mendapatkan pahalanya pada hari Raya ‘ldul Fitri yang merupakan hari pembagian hadiah, maka membiasakan puasa setelah ‘Idul Fitri merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat ini. Dan sungguh tak ada nikmat yang lebih agung dari pengampunan dosa-dosa. Oleh karena itu termasuk sebagian ungkapan rasa syukur seorang hamba atas pertolongan dan ampunan yang telah dianugerahkan kepadanya adalah dengan berpuasa setelah Ramadhan. Tetapi jika ia malah menggantinya dengan perbuatan maksiat maka ia termasuk kelompok orang yang membalas kenikmatan dengan kekufuran. Apabila ia berniat pada saat melakukan puasa untuk kembali melakukan maksiat lagi, maka puasanya tidak akan terkabul, ia bagaikan orang yang membangun sebuah bangunan megah lantas menghancurkannya kembali. Allah Ta’ala berfirman: “Dan janganlah kamu seperti seorang perempuan yang menguraikan benangnya yang sudah dipintal dengan kuat menjadi cerai berai kembali “(An-Nahl: 92)
Dan di antara manfaat puasa enam hari bulan Syawal adalah amal-amal yang dikerjakan seorang hamba untuk mendekatkan diri kepada Tuhannya pada bulan Ramadhan tidak terputus dengan berlalunya bulan mulia ini, selama ia masih hidup.


diambil dari: Renungan Kisah Inspiratif
"Read More. . ."

Senin, 13 September 2010

Dahsyatnya Kekuatan Saling Memaafkan



Share
Oleh Dr A Ilyas Ismail

Pada suatu hari, Abu Bakar As-Shiddiq bersumpah untuk tidak lagi membantu Misthah bin Atsatsah, salah seorang kerabatnya. Sebab, ia telah ikut menyebarkan berita bohong mengenai putrinya, Siti Aisyah. Namun, Allah SWT melarang sikap Abu Bakar itu dengan turunnya ayat ke-22 dari surah An-Nur.

“Janganlah orang-orang yang mempunyai kelebihan dan kelapangan di antara kamu bersumpah bahwa mereka tidak akan memberi (bantuan) kepada kaum kerabat (nya), orang-orang yang miskin dan orang-orang yang berhijrah di jalan Allah. Hendaklah mereka memaafkan dan berlapang dada. Apakah kamu tidak ingin agar Allah mengampunimu? Sesungguhnya, Allah adalah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS An-Nur [24]: 22).


Ayat ini mengajarkan kepada kaum Muslim agar melakukan (paling tidak) dua hal kepada orang yang pernah berbuat dosa. Pertama, al-afwu, yaitu mem beri maaf. Dalam bahasa Alquran, kata al-afwu, berarti ‘menghapus’ atau ‘menghilang kan luka-luka lama yang ada dalam hati’. Untuk itu, tidak disebut memberi maaf manakala masih tersisa ganjalan, apalagi dendam yang membara dalam hati.

Kedua, as-shafhu, yaitu berlapang dada. Kata as-shafhu berarti ‘irdhu as-syai’, yaitu permukaan atau dataran sesuatu yang menggambarkan kelapangan. Dari kata ini terbentuk kata mushafahah yang berarti bersalam-salaman, dan kata shafahat yang berarti lembaran-lembaran. Jadi, dengan as-shafhu, kita disuruh bersikap lapang dada untuk menutup lembaran-lembaran lama dan membuka serta mengisi lembaran yang baru.

Menurut pakar tafsir Al-Ashfahani, as-shafhu lebih tinggi nilainya dibanding al-afwu. Itu karena, pada al-afwu, boleh jadi ada sesuatu yang sulit dihapus dan dibersihkan, atau karena lembaran yang terkena noda. Meskipun sudah dibersihkan, ia tidak akan sebagus lembaran yang baru sama sekali.

Di samping dua hal, al-afwu dan as-shafhu, kepada orang yang bersalah itu, kita diminta pula berbuat baik dan terbaik ( ihsan). Ihsan itu bukan kebaikan biasa, akan tetapi keutamaan ( al-fadhl) yang sangat tinggi. Ia di atas kewajiban atau sesuatu yang seharusnya. Dicontohkan dalam perihal membayar hutang. Itu merupakan kewajiban, tetapi membebaskan piutang adalah keutamaan ( ihsan). Meminta maaf adalah kewajiban, tetapi memberikan maaf sebelum diminta adalah keutamaan ( ihsan).

Pada hari yang suci dan fitri ini, sudah selayaknya kita memulai hidup baru dengan memperkuat tali silaturahim, saling memaafkan, dan saling berbagi dalam kebaikan dan kebahagiaan. Itulah sesungguhnya jalan takwa yang harus kita budayakan dan berdayakan sepanjang hidup kita. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah beserta orangorang yang bertakwa dan orangorang yang berbuat kebaikan.” (QS Al-Nahl [16]: 128). Wallahu a’lam. Mohon maaf lahir dan batin.

Sumber: Republika.co.id
"Read More. . ."

Kamis, 09 September 2010

Idul Fitri



Share
Hari ini tanggal 9 September 2010 itu berarti hari ini juga hari terakhir kita puasa dan nanti malam kita bertakbir....

mau merenung sedikit tentang diriku selama bulan Ramadhan tahun ini.... http://www.emocutez.com
untuk Ramadhan tahun ini sebenernya aku menjalan kurang maksimal kenapa aku bilang kurang maksimal, karena aku melewatkan sholat Tarawih yang seharusnya kita jalankan setiap harinya... tapi aku hanya menjalaninya beberapa kali... padahal Shalat Tarawih itu momen yang sangat dinanti setiap tahunnya di bulan Ramadhan... http://www.emocutez.com


dan yang kurang lagi yaitu, aku belum bisa khatam Al-Quran pada bulan Ramadhan ini... padahal niat aku ingin khatam Al-Quran di bulan puasa ini... setiap tahun aku niatnya selalu itu, tapi belum kesampaian sampai hari ini. aku ngaji baru sampai Juz 13... sayang yaaaaaaa... http://www.emocutez.com

kurang nahan kesabaran juga salah satu kekurangan... dibulan Ramadhan ini kesabaran aku bener-bener diuji, baik di kantor,dirumah, dikampus.... dan kadang aku suka gerutu sendiri... padahal hal yang kaya gitu yangmau aku kurangin... bukan cuma diwaktu Ramadhan aja, tp setiap hari aku pengen menjadi pribadi yang sabar dan ikhlas dalam menghadapi situasi apapun...

Dan yang menjadi ramadhan tahun ini kurang maksimal adalah... ehhhmmm, http://www.emocutez.com apa yaaaaaa.... ga enak ngomongnya tapi yang pasti Allah tahu yang belum lengkap itu apa...

dan doa aku adalah: Yaa Allah pertemukanlah hamba dengan Ramadhan dan Idul Fitri tahun-tahun yang akan datang, berikanlah kesehatan kepada kedua orang tua hamba dan diri hamba serta seluruh keluarga hamba... agar kami dapat merasakan kembali Ramadhan di tahun-tahun berikutnya.... Jadikanlah hamba pribadi yang lebih baik setiap harinya dan selalu berada di bawah bimbinganMu, kuatkanlah iman islam hamba dan bimbinglah hamba untuk selalu dekat dan berada di jalanMu ya Allah....

Dan satu harapan dan doaku... semoga Kau memberikanku pasangan hidup yang Engkau Ridhoi dan semoga di Ramadhan dan Idul Fitri tahun depan, hamba telah menjadi seorang wanita yang sempurna yaitu menjadi seorang istri dan seorang ibu... Kabulkanlah doa hamba Yaa Allah...

Amiennnnnnn....

Dan dari lubuk hati yang paling dalam,aku ingin mohon maaf yang sedalam-dalam apabila diriku ini mempunyai kesalahan baik yang disengaja atau yang tidak disengaja kepada sahabat blogger semua....

Selamat Hari Raya Idul Fitri 1431 H
Mohon Maaf Lahir dan Batin
"Read More. . ."

Rabu, 01 September 2010

Kisah Bocah Amerika Masuk Islam



Share
Posting lagiiiiiiiiiiiiii... semangat yaaaaa, bentar lagi THR turun... http://www.emocutez.com horeeeeeeeee

shoping...shoping...shoping... http://www.emocutez.com

hari ini mau posting tentang bocah kecil di amerika yang masuk islam... terharu aku bacanya http://www.emocutez.com

oiya postingan ini aku ambil dari: Arif's Blog... belum ijin share sih... tp td aku dapet dari kaskus trus ada info link aslinya.... http://www.emocutez.com

yukkkkkkkkkkkkkkksssssssssssssssssss, baca bareng-bareng ya... http://www.emocutez.com


Rasulullah saw bersabda: ”Setiap bayi yang dilahirkan dalam keadaan fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, atau Nasrani, atau Majusi.” (HR. Bukhari)



Kisah bocah Amerika ini tidak lain adalah sebuah bukti yang membenarkan hadits tersebut di atas.

Alexander Pertz dilahirkan dari kedua orang tua Nasrani pada tahun 1990 M. Sejak awal ibunya telah memutuskan untuk membiarkannya memilih agamanya jauh dari pengaruh keluarga atau masyarakat. Begitu dia bisa membaca dan menulis maka ibunya menghadirkan untuknya buku-buku agama dari seluruh agama, baik agama langit atau agama bumi. Setelah membaca dengan mendalam, Alexander memutuskan untuk menjadi seorang muslim. Padahal ia tak pernah bertemu muslim seorangpun.

Dia sangat cinta dengan agama ini sampai pada tingkatan dia mempelajari sholat, dan mengerti banyak hukum-hukum syar’i, membaca sejarah Islam, mempelajari banyak kalimat bahasa Arab, menghafal sebagian surat, dan belajar adzan.

Semua itu tanpa bertemu dengan seorang muslimpun. Berdasarkan bacaan-bacaan tersebut dia memutuskan untuk mengganti namanya yaitu Muhammad ’Abdullah, dengan tujuan agar mendapatkan keberkahan Rasulullah saw yang dia cintai sejak masih kecil.

Salah seorang wartawan muslim menemuinya dan bertanya pada bocah tersebut. Namun, sebelum wartawan tersebut bertanya kepadanya, bocah tersebut bertanya kepada wartawan itu, ”Apakah engkau seorang yang hafal Al Quran ?”

Wartawan itu berkata: ”Tidak”. Namun sang wartawan dapat merasakan kekecewaan anak itu atas jawabannya.

Bocah itu kembali berkata , ”Akan tetapi engkau adalah seorang muslim, dan mengerti bahasa Arab, bukankah demikian ?”. Dia menghujani wartawan itu dengan banyak pertanyaan. ”Apakah engkau telah menunaikan ibadah haji ? Apakah engkau telah menunaikan ’umrah ? Bagaimana engkau bisa mendapatkan pakaian ihram ? Apakah pakaian ihram tersebut mahal ? Apakah mungkin aku membelinya di sini, ataukah mereka hanya menjualnya di Arab Saudi saja ? Kesulitan apa sajakah yang engkau alami, dengan keberadaanmu sebagai seorang muslim di komunitas yang bukan Islami ?”

Setelah wartawan itu menjawab sebisanya, anak itu kembali berbicara dan menceritakan tentang beberapa hal berkenaan dengan kawan-kawannya, atau gurunya, sesuatu yang berkenaan dengan makan atau minumnya, peci putih yang dikenakannya, ghutrah (surban) yang dia lingkarkan di kepalanya dengan model Yaman, atau berdirinya di kebun umum untuk mengumandangkan adzan sebelum dia sholat. Kemudian ia berkata dengan penuh penyesalan, ”Terkadang aku kehilangan sebagian sholat karena ketidaktahuanku tentang waktu-waktu sholat.”

Kemudian wartawan itu bertanya pada sang bocah, ”Apa yang membuatmu tertarik pada Islam ? Mengapa engkau memilih Islam, tidak yang lain saja ?” Dia diam sesaat kemudian menjawab.

Bocah itu diam sesaat dan kemudian menjawab, ”Aku tidak tahu, segala yang aku ketahui adalah dari yang aku baca tentangnya, dan setiap kali aku menambah bacaanku, maka semakin banyak kecintaanku”.

Wartawab bertanya kembali, ”Apakah engkau telah puasa Ramadhan ?”

Muhammad tersenyum sambil menjawab, ”Ya, aku telah puasa Ramadhan yang lalu secara sempurna. Alhamdulillah, dan itu adalah pertama kalinya aku berpuasa di dalamnya. Dulunya sulit, terlebih pada hari-hari pertama”. Kemudian dia meneruskan : ”Ayahku telah menakutiku bahwa aku tidak akan mampu berpuasa, akan tetapi aku berpuasa dan tidak mempercayai hal tersebut”.

”Apakah cita-citamu ?” tanya wartawan

Dengan cepat Muhammad menjawab, ”Aku memiliki banyak cita-cita. Aku berkeinginan untuk pergi ke Makkah dan mencium Hajar Aswad”.

”Sungguh aku perhatikan bahwa keinginanmu untuk menunaikan ibadah haji adalah sangat besar. Adakah penyebab hal tersebut ?” tanya wartawan lagi.

Ibu Muhamad untuk pertama kalinya ikut angkat bicara, dia berkata : ”Sesungguhnya gambar Ka’bah telah memenuhi kamarnya, sebagian manusia menyangka bahwa apa yang dia lewati pada saat sekarang hanyalah semacam khayalan, semacam angan yang akan berhenti pada suatu hari. Akan tetapi mereka tidak mengetahui bahwa dia tidak hanya sekedar serius, melainkan mengimaninya dengan sangat dalam sampai pada tingkatan yang tidak bisa dirasakan oleh orang lain”.

Tampaklah senyuman di wajah Muhammad ’Abdullah, dia melihat ibunya membelanya. Kemudian dia memberikan keterangan kepada ibunya tentang thawaf di sekitar Ka’bah, dan bagaimanakah haji sebagai sebuah lambang persamaan antar sesama manusia sebagaimana Tuhan telah menciptakan mereka tanpa memandang perbedaan warna kulit, bangsa, kaya, atau miskin.

Kemudian Muhammad meneruskan, ”Sesungguhnya aku berusaha mengumpulkan sisa dari uang sakuku setiap minggunya agar aku bisa pergi ke Makkah Al-Mukarramah pada suatu hari. Aku telah mendengar bahwa perjalanan ke sana membutuhkan biaya 4 ribu dollar, dan sekarang aku mempunyai 300 dollar.”

Ibunya menimpalinya seraya berkata untuk berusaha menghilangkan kesan keteledorannya, ”Aku sama sekali tidak keberatan dan menghalanginya pergi ke Makkah, akan tetapi kami tidak memiliki cukup uang untuk mengirimnya dalam waktu dekat ini.”

”Apakah cita-citamu yang lain ?” tanya wartawan.

“Aku bercita-cita agar Palestina kembali ke tangan kaum muslimin. Ini adalah bumi mereka yang dicuri oleh orang-orang Israel (Yahudi) dari mereka.” jawab Muhammad

Ibunya melihat kepadanya dengan penuh keheranan. Maka diapun memberikan isyarat bahwa sebelumnya telah terjadi perdebatan antara dia dengan ibunya sekitar tema ini.

Muhammad berkata, ”Ibu, engkau belum membaca sejarah, bacalah sejarah, sungguh benar-benar telah terjadi perampasan terhadap Palestina.”

”Apakah engkau mempunyai cita-cita lain ?” tanya wartawan lagi.

Muhammad menjawab, “Cita-citaku adalah aku ingin belajar bahasa Arab, dan menghafal Al Quran.”

“Apakah engkau berkeinginan belajar di negeri Islam ?” tanya wartawan

Maka dia menjawab dengan meyakinkan : “Tentu”

”Apakah engkau mendapati kesulitan dalam masalah makanan ? Bagaimana engkau menghindari daging babi ?”

Muhammad menjawab, ”Babi adalah hewan yang sangat kotor dan menjijikkan. Aku sangat heran, bagaimanakah mereka memakan dagingnya. Keluargaku mengetahui bahwa aku tidak memakan daging babi, oleh karena itu mereka tidak menghidangkannya untukku. Dan jika kami pergi ke restoran, maka aku kabarkan kepada mereka bahwa aku tidak memakan daging babi.”

”Apakah engkau sholat di sekolahan ?”

”Ya, aku telah membuat sebuah tempat rahasia di perpustakaan yang aku shalat di sana setiap hari” jawab Muhammad

Kemudian datanglah waktu shalat maghrib di tengah wawancara. Bocah itu langsung berkata kepada wartawan,”Apakah engkau mengijinkanku untuk mengumandangkan adzan ?”

Kemudian dia berdiri dan mengumandangkan adzan. Dan tanpa terasa, air mata mengalir di kedua mata sang wartawan ketika melihat dan mendengarkan bocah itu menyuarakan adzan.
"Read More. . ."
 

Buku Tamu

Recent post

Ada kesalahan di dalam gadget ini

©2010 tulisan-citra | Designer by Rinda's Template